Wartapost.com

Omzet Rp 360 Juta/Tahun, Wanita Ini Sukses Bisnis Kain Sulam Khas Gorontalo

  • Reporter:
  • Sabtu, 10 September 2016 | 17:17
  • / 7 Djulhijjah 1437
  • Dibaca : 177 kali
Omzet Rp 360 Juta/Tahun, Wanita Ini Sukses Bisnis Kain Sulam Khas Gorontalo
Karawo, Kain Sulam Khas Gorontalo

Wartapost.com – Saat ini kerajinan tangan khas daerah bisa dibilang hampir punah jika tidak dilestarikan dan diinovasikan kembali. Hal ini juga terjadi pada kain sulam khas Gorontalo dengan motif khas Gorontalo.

Untuk membuat kain sulam yang disebut karawo ini tergolong sulit. Sebagai contoh dalam proses pembuatan kain khas Gorontalo yang berbahan katun yang selanjutnya diiris dan membentuk lubang. Lubang itu lalu dihitung dan dicabut benangnya, kemudian diikat dan dimasukkan benangnya.

Hal ini pun dialami salah satu pengrajin Karawo, Karsumbunda. Ia telah memulai usaha pelestarian ini sejka 2004 silam.

Pada awalnya ia hanya bermodal Rp 15 juta untuk membeli beberapa peralatan. Hingga saat ini, kegigihan dan kerjakerasnya pun berbuah dengan mampu peroleh omzet Rp 30 juta dalam sebulan.

Wanita yang kerap dipanggil Karsum ini mengatakan “Omzet setiap bulannya mencapai Rp 30 juta, paling minim mencpai Rp 360 juta dalam setahun”, ucapnya saat mengikuti pameran UMKM, Balai Kartini, Jakarta Selatan, beberapa pekan lalu.

Saat ini, ia dibantu dengan 50 karyawan tetap mampu memproduksi sebanyak 600 buah stok dalam satu tahun. Jika ada pesanan, produksinya bahkan bisa mencapai 1.000 buah dalam setahun.

Karsum menjelaskan bahwa salah satu penyebab meningkatnya penjualan bisnisnya tidak lepas dari bantuan BI. Bank Indonesia (BI) setiap kamis, mempromosikan Karawo dengan mewajibkan pegawainya memakai kain khas Gorontalo itu.

Karsum juga menjelaskan berapa harga kain produksinya. Untuk bahan katun, sutra, dan dobi kisaran harga yang dipatok sebesar Rp 700.00 hingga Rp 1,2 juta. Namun, untuk jenis kain sifon, harganya lebih murah, yakni sekitar Rp 200.000. Ada pula kain yang ia namakan ‘Kain SBY’ yang dijual dengan harga Rp 900.000. Ia namakan demikian karena pada saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai presiden pernah mampir ke Gorontalo dan memakai jenis dan motif kain itu. Oleh sebab itu, saat ini kain jenis itu banyak dicari dan diminati masyarakat. Karsum juga memproduksi beberapa inovasi dalam bentuk kipas tangan dan jilbab yang dihargai Rp 30.000 hingga Rp 75.000.

Untuk mayoritas pembelinya, sebagian besar berasal dari wilayah Gorontalo. Hal ini disebabkan setiap hari kamis, PNS diwajibkan memakai Karawo untuk atasan dan batik untuk bawahan. Anak-anak SD juga dikenalkan dengan Karawo lewat seragam bagian depannya yang bertuliskan Tut Wuri Handayani setiap hari Jumat.

Untuk mejual produknya, Karsum memiliki gerai di Desa Mongolato, Kecamatan Telaga Dusun 4, Jalan Kasimpanigoro, Kabupaten Gorontalo. Selain itu, produk miliknya juga dijual lewat www.tokokarawo.com yang dikelola Kelompok Gabungan Cinta Karawo.

Keejasama BI dan Pengembangan Karawo

Kepala Unit Akses Kuangan UMKM (UAKU) BI Provinsi Gorontalo, Ilham mengatakan bahwa pihaknya pada saat itu bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk melihat potensi daerah yang bisa dikembangkan namun hampir punah. Hingga akhirnya mereka menemukan Karawo yang memiliki potensi besar untuk dilestarikan dan dikembangkan.

"Like" dan dapatkan berita terbaru dari kami


“Karawo adalah kerajina Gorontalo yang hampir punah karena motifnya hanya itu-itu saja. Masyarakat Gorontalo pun seakan malu jika memakai Karawo karena terlihat tua. Kita lalu seleksi, pelatihan, padu padan warna, pola, pelatihan mengiris, menyulam, kita latih semua, akhirnya dijadikan cluster 2011-2014,” ucap Ilham.

Usaha BI pun berhasil, yaitu pada tahun 2012 Karawo resmi dipatenkan milik Gorontalo. Pasalnya motif dan corak Karawo hampir mirip dengan apa yang dimiliki Manado.

 

BI juga telah bekerjasama dengan pemda untuk menjadikan tanggal 23 Januari sebagai Hari Karawo. Pada 9-13 Oktober nanti, BI dan Pemda akan mengadakan festival Karawo. Pemda juga telah mewajibkan PNS memakai Karawo setiap hari Kamis dan anak-anak SD memakai Karawo walaupun hanya di bagian depan seragamnya setiap Jumat.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional