Wartapost.com

Duterte Izinkan Jokowi Eksekusi Mati Mary Jane

  • Reporter:
  • Senin, 12 September 2016 | 09:35
  • / 9 Djulhijjah 1437
  • Dibaca : 141 kali
Duterte Izinkan Jokowi Eksekusi Mati Mary Jane
Segio Duterte (Presiden Filipina) bertemu Joko Widodo, Jumat (9/9)

Wartapost.com – Pemerintah Indonesia telah mendapatkan izin untuk melakukan eksekusi mati kepada terpidana mati kasus penyelundupan narkoba asal Filipina, Mary Jane Veloso. Hal ini disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sesaat setelah salat Idul Adha di Masjid Agung At Tsauroh, Serang, Banten, Senin (12/9).

Jokowi mengatakan bahwa izin ini telah diberikan oleh Rodrigo Duterte (Presiden Filipina). Duterte dan pihaknya telah menerima keputusan dan konsekuensi hukum Indonesia terkait terpidana kasus korupsi. Untuk itu, Presiden Jokowi akan meneruskan kasus ini untuk ditindaklanjuti oleh Jaksa Agung M Prasetyo.

Dikutip dari Antara (12/9) Presiden Jokowi mengatakan, “Presiden Deterte saat itu menyampaikan silakan kalau memang mau dieksekusi.”

Tanggapan Duterte terhadap hukuman Mary Jane itu ia katakan ketika sedang berkunjung ke Jakarta Jumat lalu. Kunjungan ini ia lakukan setelah menghadiri KTT ASEAN di Laos.

Kala bertemu Jokowi di Jakarta, Duterte membicarakan beberapa hal terkait hubunga bilateral antara Indonesia dan Filipina seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan.

Tidak hanya membicarakan peningkatan hubungan bilateral antar kedua negara, tujuan utama Duterte mengunjungi Jakarta adalah untuk meminta pengampunan atas kasus Mary Jane.

Jokowi mengatakan, dirinya sudah menjelaskan kepada Presiden Filipina itu terkait kasus yang menimpa salah satu warganya.

“Sudah saya sampaikan mengenai Mary Jane (ke Duterte). Saya bercerita bahwa Mary Jane itu membawa 2,6 kilogram heroin dan saya cerita mengenai penundaan eksekusi yang kemarin,” ucap Jokowi.

Awal kisah Mary Jane dimulai ketika dirinya tertatangkap kepolisian Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta pada 2 April 2010 setelah mencoba menyelundupkan narkoba jenis heroin seberat 2,6 kilogram. Kemudian pada Oktober setelahnya, Pengadilan Negeri Sleman memberikan vonis hukuman mati kepada perempuan asal Bulacan ini karena dianggap melanggar Pasal 114 ayat 2 UU Nomoe 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Tertangkap, Mary Jane mengaku dirinya hanya diperalat untuk menyelundupkan barang terlarang itu. Atas hukuman yang ia terima, ia menjadi salah satu dari barisan terdakwa yang akan menerima hukuman mati pada April 2015 di Nusakambangan. Namun, pelaksanaan hukuman ini harus ditunda karena terjadi perkembangan kasus di negaranya.

Sebelumnya diberitakan oleh beberapa media internasional bahwa Presiden Duterte akan meminta permohonan pengampunan secara langsung kepada Presiden Jokowi dengan cara “paling sopan dan terhormat”. Mary Jane mendapatkan kesempatan hidup lebih lama setelah terjadi perkembangan kasus di negaranya di saat detik-detik akhir eksekusi.

Duterte menjelaskan, bahwa Mary Jane tetap terikat kepada hukum meski ia tidak bersalah, untuk itu ia berusaha memintakan ampunan. Walaupun akhirnya Presiden Jokowi tetap tidak bisa memberikan pengampunan, ia tetap bersyukur Mary Jane tetap diperlakukan dengan baik.

"Like" dan dapatkan berita terbaru dari kami


Ia sadar bahwa pihaknya tidak ragu dengan system peradilan di Indonesia sebab ia telahh pelajari sendiri. Ia bahkan mengaku Filipina harus bisa menghormati hukum negara lain.

 

Presiden Filipina itu juga mengatakan apabila ia berada di posisi Presiden Jokowi pun akan merasa sulit untuk memberikan pengampunan dari negara lain. “Saya tahu bagaimana sulitnya untuk menjawab hal itu,” ucap Duterte.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional