Wartapost.com

Fakta Meresahkan di Bali Diungkap Lewat ‘Sawah’

  • Reporter:
  • Jumat, 23 September 2016 | 10:09
  • / 20 Djulhijjah 1437
  • Dibaca : 262 kali
Fakta Meresahkan di Bali Diungkap Lewat ‘Sawah’
Salah satu adegan film Pendek 'Sawah'

Wartapost.com – Tidak dapat dipungkiri, Indonesia yang memiliki 34 propinsi dan 27.504 pulau memang terlalu luas untuk dapat diperhatikan seluruhnya, apalagi mengingat 255 juta penduduknya. Oleh sebab itu, banyak masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan tak tersentuh sekalipun. Salah satunya adalah kasus yang terjadi di Bali dimana lading hijau tergusur sebab pembangunan untuk ‘turis’.

Yang meresahkan dari kasus ini adalah tidak hanya ancaman penduduk yang berprofesi sebagai petani dan peladang kehilangan pekerjaan, wilayah Bali yang mayoritas pendudukanya beragama Hindu terancam kehilangan sakralitasnya.

“Karena semua yang ada di alam memiliki kesinambungan. Banyak tempat-tempat sacral yang harus dijaga dari keduniawian.” Ucap Made Anggir, salah satu petani asal Ubud yang diwawancarai di dalam film pendek berjudul ‘Sawah’, karya dokumentaris, Marko Randelovic, asal Inggris.

Walaupu hanya memiliki durasi selama lima menit, film ini mampu membawa angan penonton terhadap kesadaran yang mengerikan; apakah yang terjadi jika manusia tidak puas dalam mengekploitasi alam, dengan menggusur sawah, lading dan peternakan untuk mendirikan bangunan wisata seperti hotel dan restoran?

Sebagai seorang dokumentaris, Marko telah membuat banyak film documenter, datang ke Indonesia pada Juni lalu, Marko telah membuat film pendek documenter tentang isu-isu yang ada di Indonesia. Untuk menikmati karya-karya, penikmat bisa mengunjungi situs pribadinya, markorandelovic.com.

Walaupun sebenarnnya lebih menarik untuk diperjelas lebih dalam, isu yag diangkat film ini cukup patut untuk diperhatikan.

Dalam pembuatan film, pemuda 25 tahun ini mengajak SawahBali.org, komunitas pemerhati penggusuran sawah dan ladang di Bali. Lewat film ini, ia dan kawan-kawan kawan seolah ingin menceritakan bahwah penggusuran ladang hijau tidak cukup dengan ganti uang Rp 500 juta untuk dibangunkan tempat baru untuk para turis bisa foto selfie-selfie di Bali.

Selama 14 hari masa produksi, Randelovic dan krunya mendokumentasikan segala kegiatan rutin Made Anggir, yang sudah pasti jarang diketahui oleh orang, bahkan pemerintah, di Indonesia.

Ada banyak hal diceritkan Made Anggir dalam vide tersebut, mulai dari ilmu persawahan yang ia ketahui sampai pada tawaran uang kepadanya dari investor untuk menjual lahannya. Cerita ini begitu indah dilatarbelakangi pemandangan sawah dengan terasering yang hijau.

Randelovic mengatakan bahwa dirinya memang tidak mampu mengangkat seluruh permasalahan lahan hijau di Bali karena film yang ia buat hanya berdurasi lima menit. Namun, ia tetap mengunggak garis besar dari permasalahan ini dalam filmnya agar mudah dimengerti oleh penontonnya.

Pada Agustus lalu, ia memposting film itu di akun facebooknya, ternyata mendapat tanggapan cukup baik, hingga saat ini film tersebut sudah disaksikan lebih dari 124 ribu kali.

Apa yan ia lakukan pun mendapat banyak respon, beberapa pemberitaan terhadap karyanya bermunculan hingga menimbulkan banyak perdebatan. Walaupun begitu, pemuda yang berlatar belakang jurnaslis ini tidak mengambil pusing akan hal itu.

Ia menganggap, dengan banyaknya perdebatan maka isu ini semakin menyebar dan itu merupakan salah satu tujuannya. Ia mengatakan Bali adalah tempat yang indah, ia berharap dengan film ini dapat menjadi salah satu penyelamat keindahan Bali.

Meresahkanyya isu ini sebenarnya juga tidak hanya dirasakan oleh Randelovic, sebelumnya Jenrix ‘Superman is Dead’ juga telah menyuarakan pendapatnya tetang penolakan reklamasi Tanjung Benoa.

 

Hardirnya film ini seharusnya dapat menjadi pengingat bagi warga Indonesia bahwa negaranya memiliki banyak sekali keindahan yang harus dijaga.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional