Wartapost.com

Rencana Penghapusan Premium Belum Bisa Dilaksanakan, Ini Penyebabnya

  • Reporter:
  • Jumat, 30 September 2016 | 10:18
  • / 27 Djulhijjah 1437
  • Dibaca : 74 kali
Rencana Penghapusan Premium Belum Bisa Dilaksanakan, Ini Penyebabnya
Konsumi Premium Kian Menurun Digantikan oleh Pertalite

Wartapost.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan belum bisa mewujudkan rencana penghapusan bahan bakar minyak jenis Premium karena saat ini masyrakat telah mulai meninggalkan BBM jenis ini. Pemerintah saat ini masih menunggu kesiapan PT Pertamina (Persero) terkait kilang-kilang pengolahan minyaknya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian EnergiIGN Wiratmaja Puja mengatakan kepada Tempo, Kamis, 29 September 2016, “Roadmap-nya kami sesuaikan denga kemampuan revitalisasi kilang pada 2021.”

Sejak BBM jenis Pertalite yang memiliki oktan lebih tinggi dikenalkan oleh pertamina, konsumsi Premium terus menurun. Hal ini berdasar pada data Pertamina. Konsumsi Premium masih 64,6 ribu kiloliter per hari pada Juli 2016, turun menjadi 55,4 ribu kiloliter per hari pada Agustus 2016. Terus turun hingga September 2016 dimana konsumsi Premium menjadi 50,5 ribu kiloliter per hari.

Jauh sebelum Pertalite di kenalkan pun dikatakan oleh juru bicara Pertamina Wianda A. Pusponegoro pada Kamis, 29 September 2016 sebenarnya tren Premium juga sudah turun saat konsumsinya hanya mencapai rata-rata 75 ribu kiloliter per hari.

Wianda menjelaskan, faktor utama penurunan konsumsi Premium adalah keberadaan Pertalite. Sejak Juni 2015 pertama kali dikenalkan, Pertalite terus menunjukkan kenaikan konsumsi. Target awal pemerintah adalah menyediakan Pertalite di 1.200 stasiun pengisian bahan bakar umum. Lebih dari itu, saat ini sudah ada 4.341 SPBU yang menyediakan BBM jenis Pertalite di seluruh Indonesia.

“Tidak hanya konsumen yang ingin Pertalite. Pengusaha SPBU juga meminta ada penambahan Pertalite,” ucap Wianda.

Konsumsi nasional Pertalite pada Juli 2016 sudah mencapai angka 14,7 ribu kiloliter per hari. Jumlahnya pun naik terus. Hingga Agustus 2016, konsumsi nasional Pertalite menyentuh angka 25,2 ribu kiloliter per hari.

Tren kenaikan konsumsi Pertalite sejalan dengan rencana pemerintah untuk menetapkan standar emisi gas buang Euro 4 untk konsumsi BBM. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Igusti Nyoman Wiratmaja Puja.

Saat ini sebagian kendaraan masih banyak yang menggunakan BBM jenis Premium yang memiliki RON 88. Padahal pemerintah telah melakukan standarisasi emisi Euro 4 dengan menggunakan BBM minimal memiliki RON 95. Pertalite sendiri pun sebenarnya masih memiliki RON 90. Pertamina sebagai produsen BBM pun sebenarnya telah memasarkan BBM yang memiliki RON 95, yaitu Pertamax Plus yang saat ini telah berganti dengan Pertamax Turbo dengan RON 98.

Walaupun konsumsi Premium terus menurun bukan berarti perseroan memiliki hak untuk menghapusnya. Bahkan ketika pemerintah daerah memintanya. Beberapa waktu lalu, Pemprov DKI Jakarta sempat melakukan permintaan penghapusan Premium dari Jakarta, namun pertamina masih mempertahankan stok Premium.

"Like" dan dapatkan berita terbaru dari kami


Konsumsi Premium menurun, membuat stok Pertamina meningkat. Saat ini stok Premium di Pertamina masih bisa bertahan 22 hari yang sebelumnya cuma mampu bertahan 17 hari. Menurut Wianda, kenaikan konsumsi Pertalite dan penurunan konsumsi Premium tidak hanya terjadi di kota-kota esar di Jawa saja, melainkan merata di seluruh Indonesia termasuk Papua.

 

Di kota-kota besar Jawa bagian barat, konsumsi Pertalite masih mendominasi. Pertamina menyediakan 1.200 SPBU yang menjual Pertalite di seluruh Jawa Barat. Sementara di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Pertalite sudah ada di 926 SPBU. Paling rendah konsumsi Pertalite tecatat di Papua, Papua Barat, dan Maluku yang hanya tersedia 74 SPBU yang menyediakan Pertalite.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional