Wartapost.com

Pulau Jawa Asal Seluruh Benih Kopi di Dunia

  • Reporter:
  • Minggu, 2 Oktober 2016 | 06:44
  • / 29 Djulhijjah 1437
  • Dibaca : 97 kali
Pulau Jawa Asal Seluruh Benih Kopi di Dunia
Ilustrasi Jenis Kopi Jawa

Wartapost.com – Tidak banyak yang tahu bahwa sebagian besar biji kopi yang ditanam di seluruh dunia, termasuk negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia seperti Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Kepulauan Karibia berasal dari Tanah Jawa.

Prawoto Indarto, penulis buku The Road to Java Coffee menjelaskan saat acara Jagongan Ngopi Neng Solo yang bertempat di Pasar Gede, Surakarta, “ Kopi Jawa (Java Coffee) pada 1726 sempat menggeser dominasi kopi Mocha yang sedang tren di Eropa saat itu. Saat itu, di Amsterdam sebanyak 90 persen biji kopi (2.145 ton) yang dilelang berasal dari Pulau Jawa.”

Mengutip buku Coffee & Cacao Trade Jurnal (1964:29), dalam bukunya Prawoto menjelaskan perjalanan kopi Jawa bermula pada tahun 1618. Saat itu maskapai dagang Belanda (Dutch East Indies Company) telah membuka cabang di Kota Aden dan Mocha atas izin dari kekaisaran Ottoman di Turki.

Seperti yang banyak diketahui bahwa pada masa abad ke 15-16, kopi hanya berkembang di wilayah Arab. Sementara, Mocha adalah kota pelabuhan di Yaman. Di sana Belanda membuka cabang dan berpeluang menjadi kesportir kopi ke Eropa dan Asia jelas Prawoto.

Prawoto menejelaskan saat itu Belanda ingin mematahkan dominasi bisnis kopi yang hanya dimonopoli oleh pedagang Arab, untuk itu Belanda mulai banyak membangun kebun kopi diluar wilayah Mocha. Prawoto merupakan alumni dari Institut Seni Indonesia yang sejak 2010-2013 menghabiskan waktunya untuk menelusuri dan merangkai sejarah kopi Jawa yang tersebar di banyak jurnal baik dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan temuan Prawoto, pada 1696, Nicolas Witsen, Waliota Amsterdam memberikan perintah kepada VOC untuk mengambil benih kopi (arabika) dari pantai Malabar untuk dibawa dan ditanam di Jawa. Benih-benih kopi tersebut oleh VOC ditanam di beberapa wilayah di Jawa yakni Kampung Melayu, Bifara Cina (Bidaracina), Maester Cornelis (Jatinegara), Palmerah, Sukabumi, dan Sudimara.

Para ahli botani dari Ansterdam pada 1706 telah menganalisis jenis benih kopi dari Jawa. Mereka mengatakan bahwa kopi Jawa memiliki kualitas tinggi. Oleh sebab itu, benih kopi Jawa diperbanyak dan disebarkan di banyak kebun di Eropa, termasuk di berikan kepada Raja Prancis Louis XIV. Selanjutnya ditanam oleh Kebun Raya Royal Jardine de Plantes Paris lalu benih kopi Jawa disebarluaskan hingga Martinique, koloni Prancis di Kepulauan Karibia.

Sampai di Martinique, Prawoto menjelaskan bahwa benih kopi Jawa tersebar lagi dan menjadi benih awal kopi Arabica (Arabica Coffee) dan ditanam di kebun-kebun di seluruh Eropa yang kemudian menjadi produsen kopi dunia. Lebih lagi, Prowoto yang lahir di Yogyakarta menceritakan pada 1711, kopi Jawa mampu menjadi kopi dengan harga tertinggi di Balai Lelang Amsterdam, Belanda.

Acara Jagongan Ngopi Neng Solo itu diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kopi internasional. Berletak di Pasar Gede, kehadiran Prawoto diharapkan dapat memberikan semangat baru bagi masyarakat Jawa, terutama para pegiat dan pecinta kopi untuk terus melestarikan kopi Jawa hingga kapan pun.

Katariksa D. Putra, penanggung jawab acara Jagongan Ngopi Neng Solo yang merupakan salah satu pendiri komunitas Kopisolo.com mengatakan,” Saat ini kopi Jawa kurang popular, padahal kopi Jawa memiliki sejarah yang luar biasa. Untuk itu perlu diperkuat lagi pamornya.”

Acara Jagongan Ngopi Neng  Solo, selain membedah buku The Road To Java Coffe karya Prawoto Indarto juga dimeriahkan dengan pembagian 3.000 cangkir kopi gratis asal Jawa Timur, Tengah dan Barat. 

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional