Wartapost.com

Gunakan Bahan Alami, Usaha Batik Ini Raih Omzet Rp 7 Juta/Bulan

  • Reporter:
  • Rabu, 12 Oktober 2016 | 07:28
  • / 10 Muharram 1438
  • Dibaca : 92 kali
Gunakan Bahan Alami, Usaha Batik Ini Raih Omzet Rp 7 Juta/Bulan
Ninik Memilih Pewarna Alami Untuk Batiknya Karena Lebih Murah dan Tidak Mengandung Limbah.

WARTAPOST.com – Jika kita peka dengan bahan-bahan di sekitar rumah kita, bisa saja itu menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Seperti yang dilakukan Sri Sukartini Gatot (68), ia berhasil melihat potensi bahan-bahan pewarna alam di sekitar rumahnya. Dari potensi itu, ia memilih untuk menggunakan warna alami untuk batik kreasinya.

Sejak tahun 2012, wanita yang akrap disapa Ninik itu konsisten dengan pewarna alam untuk usahanya. Selain murah dan mudah didapat, pewarna alam juga bebas dai limbah.

“Awalnya dulu harus mendatangkan bahan dari Jogja, saat ini kita bisa dapat dari sekitar rumah. Misalnya untuk warna hijau yang semula menggunakan jelawe, kini bisa gunakan daun manga yang ternyata murah dan tidak mengandung limbah,” ucap Ninik di Karangasem kelurahan Bakungan, Banyuwangi, Rabu (28/9/2016).

“Jika gunakan daun, setelah selesai di rebus sisanya jadi pupuk. Kalau menggunakan kayu atau kulit kayu, setelah dijemur bisa untuk kayu bakar,” tambahnya.

Untuk mendapatkan pewarna-pewarna itu, sebagian besar didapat dari pekarangan rumah. Beberapa bahan yang biasa digunakan oleh Ninik adalah daun lamtoro, daun mangga, daun ketepeng, daun jati, putri malu, enceng-enceng, kulit nangka, kulit jengkol, kangkung krangkong, kulit mahoni, limbah kulit kopi, secang dan lain-lain.

Sejak mendapat pengetahuan tentang warna-warna alami itu ia dapat dari pelatihan yang ia ikuti bersama desainer Merdi Sihombing pada Agustus lalu, Ninik mengaku semakin bersemangat untuk melakukan eksplorasi bahan-bahan alami dari sekitar rumahnya. Walaupun tidak selalu mulus menggunakan warna alam, hal itu jadi tantangan tersendiri baginya.

“Untuk kesulitan tidak hanya sulit memprediksi hasil, yang maunya warna hijau ternyata setelah finishing bisa berubah abu-abu bahkan hasil dari satu kain bisa berbeda-beda. Setelah itu susah dalam nglorot malamnya (lilin) karena sulit hilang. Sudah empat tahun, saya masih dalam proses belajar,” ucap pemilik Batik Sekar Bakung.

Ninik juga mengatakan butuh kesabaran dan ketelatenan dalam proses pewarnaan kain batik menggunakan bahan alam. “Dari memola hingga selesai, butuh wakttu 3 minggu-1 bulan untuk kain ukuran 2,5 meter,” lanjutnya.

Tidak hanya menggunakan pewarna alam, Ninik juga memilih untuk meggunakan motif klasik dalam membantik. Beberapa motif klasik yang masih ia gunakan adalah motif gajah oling, kopi pecah, gedhegan, serta jagat, kangkung setingkes, jajang sebarong dan ulo bunting, moto pithik, totogan, maspun, blarak sempal, paras gempal.

“Kami berikan harga Rp 1 juta-Rp 2 juta untuk satu lembar kain. Dalam sebulan, rata-rata 4-5 batik terjual atau menghasilkan Rp 7 juta. Jika ada event penjualan bisa saja naik hingga puluhan batik,” jelasnya.

Walaupun batikya sering dijadikan buah tangan, ia mengaku baru memasarkan batinya melalui event-event wisata. Ninik mengaku belum siap menerima pesanan.

“Saya masih belajar mewarna dengan bahan alam, jadi masih memikirkan mutu. Saya belum siap, apalagi untuk proses satu lembar batik memerlukan waktu satu bulan,” ucapnya rendah hati.

Awalnya Ninik adalah mantan ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Banyuwangi, ia bahkan tidak pernah terbersit untuk membatik. Setelah pensiun menjadi bidan, ia baru tertarik dengan batik dan mengikuti pelatihan-pelatihan.

“Saya memang orangnya aktif, jadi keluarga tidak ada yang tahu kalau saya ikut pelatihan. Keluarga baru memberikan dukungan setelah berhasil bikin beberapa batik. Tapi hingg saat ini masih banyak yang tidak percaya saya bisnis batik, terutma teman-teman seprofesi sebleumnya,” ujar Ninik.

Walaupun mendapat banyak tantangan dalam berbisnis, Ninik mengaku sangat menikmati waktunya. Kepada para karyawan yang mayoritas tetangganya itu, ia tidak segan memberikan ilmunya.

“Kalau dulu profesi saya bertars nyawa, saat ini lebih santai dan kepuasannya beda. Dasarnya memang saya senang denga bisnis ini,” tambahnya.

Kesenangan Ninik dalam berbisnis ini pun dirasakan oleh salah satu karyawannya, Lina (33) yang sudah bekerja kepada Ninik selama empat tahun. Menggunakan pewarna alam adalah hal yang baru baginya, meskipun sebelumnya ia telah lama menggeluti batik.

 

“Membatik pakai sintetis sudah saya lakukan sejak 2004, dengan pewarna alam bisa dibilang belajar dari nol lagi. Tadinya malah kena gangguan pernafasan (infeksi) sebab diuap jika menggunakan pewarna sintetis. Kalau sekarang sudah enggak,” tutupnya. 

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional