Wartapost.com

Teater Garasi Kembali Mainkan “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi”

  • Reporter:
  • Minggu, 31 Juli 2016 | 09:09
  • / 25 Syawal 1437
  • Dibaca : 123 kali
Teater Garasi Kembali Mainkan “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi”
Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi

Salah satu kelompok teater asal Yogyakarta, Teater Garasi kembali memainkan lakon “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi” di Gothe-Institute Jakarta pada  Sabtu dan Minggu (30-31/7) pukul 20.00. Pementasan ini merupakan pentas lanjutan setelah pertama kali dimainkan di Yogyakarta pada Juni 2015, dan beberapa waktu sebelumnya juga dipentaskan di kampus UI Depok.

“Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi” adalah judul yang diambil dari salah satu puisi Sapardi Djoko Damono. Lakon ini menceritakan tentang mantan buruh migran (TKW) yang bernama Rosnah. Ia harus menjadi Artis di Jakarta untuk bertahan hidup, dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa momen Idul Fitri di keluarga Rosnah.

Dalam sebuah wawancara, Yudi Ahmad Tajudin mengatakan bahwa pementasan ini merupakan pengembangan dan penelusuran lebih dalam dari proyek seni kolektif yang dijalankan Teater Garasi sejak tahun 2008. Dalam proyek itu, Teater Garasi telah menghasilkan beberapa pertunjukan seperti “Je.ja.l.an” dan “Tubuh Ketiga” yang bersaha untuk mengeksplorasi bagaimana  ledakan (eksplosi) dari “Narasi” atau “Suara” (agama, identitas dan ideologis) pasca krisis dan reformasi pada tahun 1998 dalam hal menciptaan dan menyingkap ketegangan dan kekerasan, baik yang baru maupun yang terpendam.

Dengan kata lain, Yudi Ahmad Tajudin ingin menampilkan beberapa persoalan yang muncul atau membekas dan tidak terselesaikan pasca kejadian 1998. Dalam hal ini masalah yang muncul adalah kekerasan seksual, pengangguran, terorisme, kemiskinan, pembunuhan, kelaparan, buruh migran, kekacauan politik bahkan ketegangan antar agama. Dari masalah-masalah itu, Teater Garasi melakuakan pembacaan ulang atas istilah ‘tatanan’ dan ‘berantaka’ (order dan disorder).

Awal adegan dalam pementasan ini dibuka dengan percakapan pendek  yang diulang-ulang dari dua orang lelaki bernama Rosyid dan wanita berpakaian merah.

Rasyid pertama masuk panggung dengan rambut plontos dan membawa lakban. Di sana ia membentuk kotak seperti ring tinju dan berusaha berlatih. Tak lama, perempuan berbaju merah datang dengan wajah kebingungan.

Dengan lirih, perempuan itu berucap “Ini potret keluarga saya. Lebaran tahun ini Rosnah mau pergi ke Jakarta. Katanya mau jadi artis yang tampil di tivi. Padahal dia baru pulang dari Hong Kong jadi TKW. Rasyid jual sawahnya, mau pergi ke Arab.”

Lalu diralat oleh Rosyid, “Afganistan bukan Arab.”

Percakapan pendek itu diulang hingga tiga kali, sekan menegaskan bagaimana riuhnya keadaan keluarga Rosnah. Adegan berlanjut dengan kompleksitas permasalahan keluarga Rosnah dengan berbagai dinamika yang mengelilinginya.

Selain dramatisasi adegan, pementasan “Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi” juga menampilkan artistik panggung yang penuh simbol. Satu simbol yang kokoh berdiri hingga pementasan berakhir adalah sebuah patung yang berdiri tegak namun dibungkus dengan terpal biru. Instalasi tersebut seakan mengingatkan kita bahwa masih ada banyak masalah yang tidak terselesaikan pasca kejadian 1998.

Tidak hanya sang sutradara, Yudi Ahmad Tajuddin. Pementasan ini juga diciptakan secara bersamaan dengan beberapa seniman dari Teater Garasi. Mereka adalah Gunawan Maryanto, Ignatius Sugiarto, Jompet Kuswidananto, Muhammad Nur Qomaruddin, Sri Qadariatin, Ugoran Prasad, Vassia Valkanioti, Yennu Ariendra, Andreas Ari Dwianto, Arsita Iswardhani dan Erythrina Baskoro.

Sedangkan dalam hal produksi, pementasan ini didukung penuh oleh Badan Ekonomi Kreatif dan Budaya Djarum Foundation. Untuk tiket masuk pementasan ini, kelas 1 diharai Rp. 150.000 dan untuk kelas 2 (VIP) dihargai Rp. 200.000.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional