Wartapost.com

Terendah Sejak 2009, Nilai Ekspor Indonesia Semakin Mengkhawatirkan!

  • Reporter:
  • Senin, 15 Agustus 2016 | 08:33
  • / 11 Djulqa'dah 1437
  • Dibaca : 104 kali
Terendah Sejak 2009, Nilai Ekspor Indonesia Semakin Mengkhawatirkan!
Data BPS menyebutkan bahwa pada Juli 2016 Indonesia mengalami nilai ekspor terendah sejak Juli 2009

Wartapost.com – Pada Juli 2016 lalu, BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat bahwa nilai ekspor Indonesia mengalami titik terendah sejak tahun 2009. Nilai transfer ekspor Indonesia hanya mencapai US$9,51 miliar. Nilai itu terlampau anjlok dari bulan sebelumnya yang mencapai US$12,92 miliar. Nilai ekspor itu menjadi yang terendah sejak Juli 2009 yang tercatat sebesar US$9,65 miliar.

Selisih 26,27 persen dengan bulan seblumnya juga tidak sebanding dengan Juli periode sebelumnya yang hanya selisih 17,02 persen.

Suryamin, Kepala BPS mengatakan bahwa turunnya nilai ekspor Indonesia telah diprediksi sebelumnya. Hal ini terjadi karena bertepatan dengan momentum libur lebaran. Dengan begitu, otomatis jumlah hari kerja pun berkurang. BPS mencatat, hari kerja efektif dalam Juli 2016 adalah cuma 16 hari.

Suryamin mengatakan,”Pada Juli itu, di tanggal 6-7 itu bertepatan dengan hari lebaran. Hal itu membuat beberapa perusahaan yang menghentikan kegiatan ekspornya saat menjelang dan hari-H lebaran.”

Selain bertepatan dengan hari lebaran, penyebab turunnya nilai ekspor Indonesia disebabkan oleh perlambatan perekonomian global. Sehingga membuat turunnya permintaan produk dari Indonesia.

Jika dibandingkan dengan nilai komulatif Januari-Juli 2016 dengan tahun sebelumnya, nilai ekspor Indonesia mencapai US$79,08. Jumlah itu menunjukan penurunan sebanyak 12,02 persen dari periode lalu.

Tak hanya itu, Suryamin juga menunjukan data bahwa capaian ekspor nonmigas pada Juni 2016 mencapai US48,52, turun 27,75 persen dengan realisasi capaian nilai ekspor bulan Juli 2016 yag tahun lalu hanya 15,22 persen.

Penurunan nilai ekspor terbsar pada Juni 2016 dari barang-barang nonmigas adalah bijih, kerak, dan abu logam yang turun 57,24 persen dari capaian ekspor sebesar US$188,1 juta.

Sedanngkan bahan nonmigas yang mengalami kenaikan angka adalah pada besi dan baja dengan capaian sbebesar 130,82 persen dengan nominal US$221,1 juta.

Dalam hal sisi rekan dagang, Amerika Serikat masih menjadi mitra dagang utama Indonesia. Pada barang-barang nonmigas, nilai ekspor mencapai US$991 juta, Juli lalu. Dibawah Amerika adal China dengan capaian nilai US$915,7 juta dan Jepang dengan US$821,6 juta.

Sedangkan untuk total keseluruah nilai ekspor barang nonmigas Indonesia mencapai US$71,59 miliar, anjlok 8,78 persen dari catatan pada paruh putaran pertaman tahun lalu.

NIlai ekspor terbesar masih berasal dari sktor lemak dan minyak hewn/nabati sebesar US$9,14 dan bahan bakar mineral dengan catatan US$7,57.

"Like" dan dapatkan berita terbaru dari kami


Sedangkan untuk industri sektoral pengolahan, nilai yang dicatatkan pun ikut turun sebesar 5,58 persen selama Januari-Juli 2016. Sebelumnya, sektor ini mampu mencatatkan nlai sebesar US$60,86 miliar.

Dalam sektor pertanian dan pertambangan, nila elkspornya juga ikut menurun. Sekktor pertanian turun 21,32 persen dan sektorpertambangan turun 23,89 persen.

Dari data BPS juga disebutkan bahwa sekotor industri pengolahan mengalami kenaikan nilai ekspor dari 71,7 persen menjadi 76,32 persen.

Sementara nilai ekspor barang-barang migas pun demikian. BPS mencatat sebesar US4998,6 juta yang mampu dicapai di sektor ini atau menurun sekitar 15,89 persen. Padahal pada bulan sebelumnya sektor migas menghasilkan catatan sebesar US$1,19 miliar. 

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional