Wartapost.com

Isu Rokok Mahal, Waspada Rekayasa Asing!

  • Reporter:
  • Minggu, 21 Agustus 2016 | 19:14
  • / 17 Djulqa'dah 1437
  • Dibaca : 417 kali
Isu Rokok Mahal, Waspada Rekayasa Asing!
Angota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mukhamad Misbakhun menganggap isu kenaikan harga rokok ditunggangi pihak asing

Wartapost.com – Akhir-akhir ini santer terdengar kabar naiknya harga rokok Rp 50 ribu per bungkus. Hal ini membuat industri rokok terancam, akibatnya banyak pihak akan dirugikan terutama masyarakat kecil. Mengenai hal ini, Angota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mukhamad Misbakhun mengatakan pemerintah harus wasapada dalam menyikapi isu ini. Menurutnya isu tersebut ditunggangi kepentingan asing dengan tujuan tertentu.

“Pemerintah jangan terjebak kampanye anti rokok yang dikendalikan oleh kepentingan asing,” tegas Misbakhun (21/8).

Misbakhun menjelaskan jika harga rokok benar-benar naik menjadi Rp 50 ribu per bungkus maka dapat dipastikan akan merugikan bahkan membuat bangkrut industri rokok karena produknya akan semakin jarang dibeli pelanggan. Keadaan demikian akan memaksa manajemen untuk memangkas biaya produksi dengan memberhentikan ribuan tenaga kerja.

Kebijakan itu sudah pasti akan memukul industri rokok tidak hanya indsutri besar tetapi semua lini industri baik yang menengah maupun yang kecil.

Kondisi ini akan memperparah keadaan industri rokok kecil dan menengah yang saat ini telah dirugikan oleh kebijakan pita cukai yang tidak melindungi kepentingan mereka. Hal ini akan membuat industri rokok di tanah air semakin menyusut.

“Jika pabrikan rokok gulung tikar, maka jutaan pekerja di sector tembakau akan menganggur, dan catatan kemiskinan Indonesia akan semakin besar,” tambahnya.

Tidak hanya itu, lebih jauh jika industri rokok tanah air berkurang maka akan berakibat pada penerimaan negara yang didapat melalui penerapan cukai, pajak, bea masuk/bea masuk progresif, pengaturan tata niaga yang sehat hingga pengembangan industri hasil tembakau bagi kepentingan nasional. Hal tersebut akan membuat nasib petani tembakau menjadi tidak menentu sebab penerimaan negara yang berkurang.

Lebih lanjut, Misbakhun menjelaskan bahwa industri rokok memegang peran penting dalam pergerakan ekonomi nasional serta memiliki multiplier efek yang luas di sector pertembakauan mulai dari budidaya, pengolahan produksi , tata niaga, distribusi hingga pembangunan industri.

Tahun ini, penerimaan cukai sebesar Rp 141,7 triliun dalam APBNP 2016 kemungkinan besar tidak dapat dipenuhi menurut Misbakhun jika kebijakan ini benar diterapkan.

Dalam hal perpajakan, fakta bahwa industri rokok menjadi penyumbang penerimaan pajak terbesar di tanah air jika dibandingkan dengan sector lain tidak dapat dielakan.

 

Tidak hanya penyumbang pajak terbesar, industri rokok adalah industri padat karya yang menyerap tenaga kerja lebih dari 6,1 juta dan telah menciptakan banyak mata rantai industri yang dikelola rakyat seperti hal pertanian, peranjangan, pembibitan, dan lain-lain.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional