Wartapost.com

Masyarakat Diminta Abaikan Isu Rokok Rp 50 Ribu Per Bungkus

  • Reporter:
  • Senin, 22 Agustus 2016 | 08:52
  • / 18 Djulqa'dah 1437
  • Dibaca : 607 kali
Masyarakat Diminta Abaikan Isu Rokok Rp 50 Ribu Per Bungkus
Asosiasi Produsen Rokok Menghimbau Masyarakat Untuk Mengabaikan Isu Rokok Mahal

Wartapost.com – Asosiasi proudusen Rokok menghimbau masyarakat untuk mengabaikan isua kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu per bungkus. Mereka memastikan bahwa wacana itu adalah bohong dan hanya membuat kegaduhan dalam Industri Hasil Tembakau (IHT).

“Kenaikan harga rokok ini menyesatkan dan menimbulkan kegaduhan. Sebaiknya masyarakat mengabaikan gossip jahat yang tidak jelas sumbernya ini,” tegas Ismanu Soemiran, Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) via CNNIndonesia.

Menurut Ismanu, saat ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC  Kemenkeu) selaku pemegang kendali atas harga rokok, memiliki mekanisme  tersendiri dalam penentuan tarif cukai hasil tembakau berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2007 tetang Cukai. Oleh sebab itu, isu kenaikan harga rokok hanya sebatas kabar angina.

Menurutnya juga, pemerintah selaku penentu kebijakan sudah pasti memiliki mekanisme dalam setiap perencanaan kenaikan harga. Selain itu, pemerintah juga selalu mendiskusikan penetapan suatu tariff dengan berbagai elemn untuk menghasilkan kesepakatan bersama.

Hal senada pula disampaikan oleh Muhaimin Moeftie selaku Ketua Umum Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gapprindo). Ia mengatakan bahwa isu kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu di tahun depan sudah pasti tidak terjadi. Pasalnya, pemerintah sendiri telah memberikan sikap terkait wacana itu.

Muhaimin mengatakan, “Itu bukan dari pemerintah. Bahkan, Derektur Jenderal Bea dan Cukai sudah mengeluarkan pernyataan resmi tidak ada rencana menaikan harga rokok hingga sebegitu tinggi.”

Menurutnya, pemerintah hanya akan menaikan tarif CHT rata-rata 10-11 persen. Karena itu rata-rata, maka kemungkinan ada yang dinaikan hingga 15 persen. Walaupun begitu, Muhaimin telah meminta kepada pemerintah untuk menaikan tariff CHT berdasar pada laju inflasi sebesar 5-6 persen.

Asal Muasal Isu Rokok Rp 50 Ribu Per Bungkus

Isu yang sedang ramai dibicarakan saat ini itu bermula ketika Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mempublikasikan hasil riset mereka yang digawangi Hasbullah Thabrany dan rekan-rekan.

Hasil dari riset itu menyebutkan bahwa jika harga rokok dinaikan menjadi minimal Rp 50 ribu per bungkus maka akan membuat 72 persen dari seribu orang berhenti merokok.

Namun, hasil studi itu ditampik oleh Gapprindo melalui Muhaimin. Mereka menganggap bahwa perokok justru memiliki sifat fleksibelitas yang tinggi.

Ia mengatakan bahwa jika perokok tidak mampu mengkonsumsi rokok A karena harganya yang terlampau tinggi, maka mereka akan pindah ke rokok B yang lebih murah. Jika harga rokok tetap tidak terjangkau maka mereka akan pindah ke rokok illegal.

Oleh sebab itu, Muhaimin menganggap bahwa studi itu tidak relevan karena perokok cenderung memiliki sifat fleksibel.

 

Lebih jauh Muhaimin mengkhawatirkan jika para perokok pindah ke rokok ilehal maka akan merugikan banyak elemen penunjang industry hasil tembakau (IHT) dari hulu ke hilir. Selain itu, pemerintah juga tidak akan menerima keuntungan dari pajak terbesar yang dihasilkan dari cukai rokok.  

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

Baca Juga:

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional